Dikutip dari novel “5 cm.” karya Donny Dhirgantoro
Zafran menatap kenyala api dan berkata, “Our greatest glory is not in never falling… but in rising every time we fall.”
“Keren!”
“Siapa tuh, Ple?”
“Confuncius.”
“Gue setuju banget tuh.”
“Jadi
kalo kita yakin sama sesuatu, kita Cuma harus percaya, terus berusaha
bangkit dari kegagalan, jangan pernah menyerah dan taruh keyakinan itu
di sini…” Zafran meletakkan telunjuk di depan keningnya.
“Betul… banget. Taruh mimpi itu disini…,” Genta melakukan hal yang sama.
“Juga keinginan dan cita-cita kamu,” ujar Arial.
“Semua keyakinan, keinginan, dan harapan kamu…,” Riani berkata pelan.
“Taruh di sini…,” Dinda ikut meletakkan telunjuk di depan keningnya.
Muka
Ian tampak menyala, matanya mengkilat diterangi cahaya api unggun.
“Betul! begitu juga dengan mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan
kamu, apa yang kamu mau kejar taruh di sini.” Ian membawa jari
telunjuknya menggantung mengambang di depan keningnya…
“Kamu taruh di sini… jangan menempel di kening.
Biarkan…
Dia…
Menggantung…
Mengambang…
5 centimeter…
Di depan kening kamu…”
“Jadi dia nggak akan
pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu
setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya kamu bisa. Apa pun
hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama
keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan
berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai
dapat, apa pun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri…”
“…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu… Cuma…”
“Cuma
kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan
berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama
dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas.”
“Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja…”
“Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya…”
“Serta mulut yang akan selalu berdoa…”
“Dan
kamu akan di kenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan
keyakinan, bukan Cuma seonggok daging yang hanya punya nama. Kamu akan
dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan
mengejarnya, bukan seorang pemimpi saja, bukan orang biasa-biasa saja
tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Tapi seorang yang
selalu percaya akan keajaiban mimpi keajaiban cita-cita, dan keajaiban
keyakinan manusia yang tak terkalkulasikan dengan angka berapa pun… Dan
kamu nggak perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nantinya
karena kamu hanya harus mempercayainya.”
“Percaya pada… 5 centimeter di depan kening kamu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar